Sabtu, 07 Februari 2015

Mengabdi di Kaki Surga Dunia (part 1)

Inilah pertama kalinya aku mengalami petualangan mengeksplorasi kekayaan batin dan bumi manusia di ujung timur Indonesia. Raja Ampat tepatnya, telah menjadi saksi sejarah aku bersama teman-teman yang telah berkomitmen siap menggoreskan pengabdian dalam kemasan KKN PPM UGM. KKN adalah sebuah momentum kental yang dirasa mampu memberi efek positif bagi perbaikan diri. Aku membayangkan inilah kesempatan bagiku untuk melalui senja-senja tanpa hingar-bingar yang biasa didengar, berganti dengan hempasan ombak yang syahdu. Inilah saatnya kita tak lagi mengeluh dengan semrawutnya kemacetan jalan dan pusing dengan pandangan kepulan asap yang tebal. Inilah waktunya memulai pijakan pertama untuk sebuah pengabdian. 

                
Persiapan selama berbulan-bulan lamanya yang menghadirkan pijakan pertama itu. Aku yakin bahwa Indonesia dengan daratannya yang luas membentang dan lautnya yang lapang menantang, membuktikan bahwa negeri ini tak layak hanya menjadi ratapan. Meski anak-anak kecilnya seringkali menangis, terhina dalam keterpurukan dan menanti harapan yang masih timbul tenggelam. Maka dengan persiapan dan tekad yang bulat sebagai mahasiswa—tegap mengarungi baik udara, darat, maupun lautan, harus siap menjadi jawaban atas permasalahan, bukan sekedar hadir memeriksa keadaan.


Sabtu, 06 September 2014

Anomali Keikhlasan


Entah harus berapa kali diri ini menahan nafas menyaksikan dan bahkan merasakan berbagai fenomena yang terjadi dalam alam kehidupan.
Saat dimana kita seperti tak percaya akan semua yang telah terjadi, bagaikan hanya mimpi.
Saat dimana jantung tiba-tiba berdegup kencang, memompa kekuatan agar bisa bertahan dengan situasi dan kondisi yang tak pernah kita bayangkan.
Saat dimana kaki bergetar, merasakan tanah pijakan yang seolah telah terjadi gempa hebat nan menghancurkan.
Maka jawaban atas respon tubuh itu semua, adalah keikhlasan.

Keikhlasan-lah yang telah membuat semua yang sepertinya tak teratasi, perlahan sirna menemukan jalan keluar melihat titik terang dan solusi.
Keikhlasan-lah yang menenteramkan, yang pada akhirnya mampu memudahkan impian.
Keikhlasan-lah yang membuat segala ketidakpastian yang akan kita hadapi, seketika bertekuk lutut berhadapan dengan optimisme penuh arti.
Keikhlasan-lah yang mengubah apa-apa yang kita anggap buruk, menjadi jauh lebih baik, sekaligus memberi rasa bersalah atas anggapan buruk sebelumnya.

Apapun keputusan-Nya, pastikan kita percaya bahwa itu adalah sesuatu yang terbaik, yang diciptakan dari Yang Maha Mengetahui.

Hebatnya, meskipun anomali keikhlasan seringkali dirasakan, diri ini masih perlu latihan membiasakan.


Begitulah hidup, kadang apa-apa yang telah kita pahami, belum tentu sanggup kita jalani.

Sabtu, 28 Juni 2014

Percayalah Ramadhan, Aku Ini Sedang Menanti Kemenangan Sejati yang Dijanjikan

http://data.seruu.com/images/thumbs/article/2013/07/10/bulan-ramadan-624x467.jpg
gambar dari family.seruu.com

Tak terasa tinggal beberapa jam lagi bulan yang penuh ampunan, keberkahan dan kemuliaan—menuju pintu gerbang kemenangan akan kusambut dengan penuh kebahagiaan. Bulan yang sudah tentu ditunggu oleh jutaan umat muslim di seluruh dunia ini sebentar lagi akan menjawab kerinduan hati-hati dengan semangat yang menyala-nyala. Ibarat orang dipenjara yang selalu menghitung hari pembebasannya, maka setiap hari menjadi sangat berarti maknanya. Sengaja disediakan oleh-Nya untuk disucikan dan dimuliakan, di dalamnya bahkan ada berbagai peristiwa sejarah yang sangat monumental. Saat dimana Dia menunjukkan kuasa untuk membuka pintu-pintu surga, menutup pintu-pintu neraka, dan membelenggu setan-setan sejadi-jadinya. Meski amarah, ghibah, su’udzon dan maksiat lain tetap aku jalankan—kerap saja menjadi kebiasaan padahal dulunya aku lakukan dengan dalih tak tahan godaan setan. 

Dengan begitu, aku berhak menanti kemenangan sejati yang dijanjikan.

Tak apalah. Setidaknya nuansa hangatnya semakin lama semakin terasa, merasuki jiwa-jiwa yang fana—terlena sedemikian lamanya oleh nikmatnya dunia yang hanya sementara. Rasa suka cita menyambut kehadiranmu justru semakin menyelimuti, masjid-masjid dengan hiasan tilawah-tilawah merdu sengaja dilantunkan untuk mengejar target bacaan. Pastilah orang-orang kagum dengan jumlah bacaan yang bisa aku habiskan. Mana ada yang peduli dengan urusan aku tak pernah mengerti bacaan itu, apalagi akan aku terapkan dalam kehidupan. Toh sebagai pelengkap, aku menikmati bunyi petasan silih-berganti bersahut-sahutan berdentum hampir dari segala penjuru—tak peduli apakah ada insan yang tengah khusyuk beribadah. Bukankah mengekspresikan sukacita dalam menyambut bulan ini akan terhindar dari siksa api neraka?

Kamis, 01 Mei 2014

Surat Kecil Untukmu, Wahai Keluarga Peradaban



Malam ini akan menjadi saksi berputarnya rol film kehidupan dalam asrama peradaban yang kelak aku rindukan. Saksi dimana kini aku bersama kesunyian ingin sekali berdamai dengan semua lika-liku pembelajaran, mencoba kembali melihat ke belakang, agar tahu sudah seberapa jauh diri ini melangkah. Melangkah dan siap berhadapan dengan fase kehidupan selanjutnya secara jantan, setelah mampu dengan mantap mengenyam pembinaan selama 22 bulan bersama teman-teman seperjuangan.

Aku masih mengingat jelas bagaimana seorang aku dua tahun lalu. Bagaimana aku menyambut setiap pagiku, bagaimana aku mengisi waktu luangku, bagaimana aku memprioritaskan masing-masing aktivitasku, dan bagaimana aku mampu mengunggulkan setiap egoku. Dan kini, semua sikap itu aku anggap lucu. Anggapan itu muncul karena proses yang selama ini telah aku jalankan bersama Laskar Nakula—begitu sebutan untuk 31 manusia keren yang menghuni asrama orange ini, membuat berbagai tempaan di PPSDMS begitu sempurna.

Sabtu, 01 Maret 2014

Memperbudak Waktu


 

Ada saat-saat dimana kita ingin sekali mengulang waktu. Mengulang perjalanan, membaca keheningan, merekam detil setiap keping jejak langkah. Menguntai setiap bait kata yang terlontar indah, bersama mengucap asa. Menepis kembali kegundahan, yang sama-sama telah kita rasakan.